Senin, 15 Februari 2016

Point 12 Catatan


Catatan :
     Dakwah sekarang ini sebenarnya diberi pendasaran, antara lain wujudnya:
  1. Ada yang dalam bentuk mudzakarah
  2. Jangan keluar dari tertib
  3. Jika tidak fasih baca ayat maka menurut Masyeikh “jangan baca ayat supaya langsung artinya”
  4. Kalau tidak menguasai riwayat jangan sembarangan memberi
  5. Ditekankan oleh orang-orang tua kita (para Masyaikh yang berpengalaman dalam dakwah) “Jangan bawakan cerita-cerita selain Al Qur’an, para Nabi dan para Shahabat. Karena ummat sepakat kalau riwayat orang-orang tertentu mungkin populer di satu belahan dunia tetapi tidak di belahan yang lain, bahkan dielu-elukan di satu bagian tetapi dicemooh di bagian yang lain, sedang amal ini menghendaki untuk kesatuan umat. 

Point 11. Ulasan 2


ULASAN 
2. Andaikata sekarang ada dai, misal awam sehingga ada kesalahan karena keawamannya, maka masih banyak orang yang mendengar (mustami’) yang lebih ‘alim yang bisa meluruskan sehingga agama terjaga; apakah dari pondok pesantren, kajian-kajian, lulusan-lulusan sekolah agama. Lalu bagaimana dai awal yang latarbelakangnya demikian rupa (point (i) – (v)). Kalau karena kurang ilmu, Nabi berdakwah salah maka siapa yang akan meluruskan selain Allah ? sementara wahyu dari Allah kadang-kadang 3 sampai 5 bulan baru turun.

Point 10 Ulasan 1


ULASAN :
  1. Kalau menurut alur berfikir/logika kebanyakan orang hari ini, bahwa untuk dakwah harus faham ini itu atau ilmunya harus banyak, maka bagaimana dengan dai yang pertama Nabi saw ? Mungkinkah metodenya salah ? Kalau Nabi berdakwah dengan ilmu yang masih sedikit kemudian orang menolak dipandang salah karena kurang ilmu padahal Nabi berdakwah karena diperintah oleh Allah, maka siapa sebenarnya yang salah yang diutus atau yang mengutus, mungkinkah Allah salah atau kita yang sebenarnya salah faham ?

Point 9 Analisa


Catatan : Tidak dibangkitkan umat kecuali Allah utus seorang pemberi peringatan sebagaimana Qs. Fathir (35) ayat 24

$¯RÎ) y7»oYù=yör& Èd,ptø:$$Î/ #ZŽÏ±o0 #\ƒÉtRur 4 bÎ)ur ô`ÏiB >p¨Bé& žwÎ) Ÿxyz $pkŽÏù ֍ƒÉtR ÇËÍÈ
Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu ummatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Fathir, 35 /24)

Nabi diutus untuk memberi peringatan. Indhar yang dimaksud itu dakwah (Qs. As Syuro (42) ayat 13), berarti  memberi peringatan yang dimaksud dakwah.
ó öÉRr'sùOè% itu bangun untuk dakwah. Apa arah dakwahnya ?  ÷ŽÉi9s3sù y7­/uur yaitu bicara Kibriya’ Allah (Keagungan, Kebesaran Allah), yaitu bicara kibriya’ Allah (kekuasaan, kebesaran dan keagungan Allah). Bahannya seberapa ? (Diulang sekilas point (i) sampai dengan (v).
Jadi seberapa materi/bahan Beliau ? minim/sedikit.

Point 8. Wahyu Kedua dan Ketiga


). Wahyu yang ke dua muffasirin mengatakan surat Al Qolam (nun wal qolam). Sesudah itu wahyu ketiga sebagian ahli tafsir mengatakan surat Al Muzzammil. Namun jumhur muffasirin (mayoritas/ kebanyakan ahli tafsir) mengatakan Mudatstsir 7 ayat:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١  قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢  وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣  وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤  وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥  وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦  وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧

1.  Hai orang yang berkemul (berselimut),
2.  Bangunlah, lalu berilah peringatan!
3.  Dan Tuhanmu agungkanlah!
4.  Dan pakaianmu bersihkanlah,
5.  Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6.  Dan janganlah kamu memberi (dgn maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7.  Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
(QS. Mudatsir, 74 ayat 1-7)

Point 7 Wahyu Pertama


Menurut ahli tafsir dan ahli ‘ummul Qur’an (ilmu tentang Al Qur’an) wahyu pertama turun adalah 5 ayat pertama surat Al ‘Alaq 1- 5.


ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
2.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS. Al ‘Alaq: 1-5)

Ketika malaikat Jibril baca: &tø%$# (bacalah!) maka Nabi menjawab مَا اَناَ بِقَا رِعٍ (saya tidak bisa membaca).